Unsur Pembangun Cerpen

   Sesuatu yang mendorong terciptanya sebuah cerpen salah satunya adalah keinginan pengarang untuk mengekspresikan dan menyampaikan suatu gagasan kepada pembaca. Keinginan ini dirumuskan sebagian ide atau gagasan cerpen agar menarik dan sempurna, maka ide atau gagasan harus didukung oleh pengembangan unsur pembangun cerpen tersebut.

      Unsur-unsur pembangun cerpen terdiri atas dua unsur, yaitu fakta cerita (terdiri dari tokoh, alur, dan latar) dan sarana cerita (terdiri dari judul, sudut pandang, gaya, nada/suasana, dan tema). Unsur pembangun cerpen, yaitu (1) plot, (2) karakter, (3) tema, (4) setting, (5) point of view, (6) gaya, dan (7) suasana.

Berikut diuraikan mengenai cara mengembangkan unsur pembangun atau indikator menulis cerpen bermuatan budaya merujuk pada :

  1. Menentukan Judul

    Judul merupakan identitas atau sebuah nama dari karya  sastra. Judul adalah sesuatu yang penting karena judul merupakan daya tarik utama bagi pembaca untuk membaca cerpen. Biasanya pembaca melihat atau membaca judul pertama kali sebelum membaca isi bacaan.  Membuat judul harus dapat mengundang tanya pembaca. Contoh “Pilihan Terindah” judul ini mengundang tanda tanya. Misalnya, apa yang dipilih? pilihan seperti apa yang terindah itu? Ada pengarang yang judul hanya dengan satu kata. Contoh judul satu kata “Bom”, “Tuk”, “Dor”, “Kecoa” karya Putu Wijaya yang pendek dan ada yang senang menggunakan dua kata, misalnya Perjamuan Terakhir, Kota Mati, dan Rumah Tua. Judul dapat mengacu pada nama tokoh, latar, tema, maupun kombinasi dari beberapa unsur tersebut.

  2. Mengembangkan Tema

    Tema adalah gagasan sentral atau ide pokok dalam sebuah cerpen. Dalam cerita pendek tema dikembangkan secara tunggal atau hanya satu tema saja. Kedudukan tema sangat penting, karena melalui tema yang dikembangkan, pengarang dapat menyampaikan gagasan kepada pembaca. Tema adalah pokok persoalan dalam cerita pendek, namun tema bukan segala-galanya.

  3. Mengembangkan Tokoh/Penokohan

    Penokohan atau perwatakan dalam sebuah cerpen lebih mengarah pada orang dan pelaku cerita. Penokohan terlihat pada acara melukiskan karakter atau watak pelaku tersebut. Dalam mengembangkan tokoh sebuah cerpen sangat terbatas, baik yang menyangkut jumlah tokoh ataupun cerita-cerita jati diri tokoh, khususnya yang berkaitan dengan perwatakan.  Tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa itu menjadi jalinan sebuah cerita.

    Berhubung keterbatasan tokoh dalam sebuah cerpen, maka tokoh dalam cerpen dikelompokkan berdasarkan jenis dan fungsinya. Tokoh berdasarkan jenisnya terdiri atas: (1) tokoh protagonis adalah tokoh yang mendukung tema cerpen dan menjadi sentral cerita, (2) tokoh antagonis adalah tokoh penentang cerpen. Tokoh berdasarkan peran dan fungsinya meliputi: (1) tokoh utama adalah pendukung cerita, tokoh yang paling banyak diceritakan dan terlibat dalam tema cerpen, dan (2) tokoh pembantu adalah tokoh-tokoh yang memegang peran pelengkap atau tambahan dalam rangkaian cerpen. Kehadiran tokoh pembantu menurut kebutuhan cerita saja.

  4. Mengembangkan Alur

    Alur merupakan dasar atau alasan yang menyebabkan terjadinya perkembangan sebuah cerita. Alur dalam sebuah cerita pendek pada umumnya dikembangkan secara tunggal, hanya terdiri atas satu urutan cerita yang diikuti sampai cerita berakhir. Berikut tahapan pengembangan alur.

    Pertama, pengenalan (orientasi), yaitu tahapan peristiwa dalam cerpen yang memperkenalkan tokoh atau latar cerpen. Dikenalkan dari tokoh, misalnya nama, asal, ciri fisik, dan sifatnya. Pengenalan tokoh dapat dilakukan pada awal cerita, tengah, bahkan akhir cerita.

    Kedua, pemunculan konflik (tikaian), rumitan (komplikasi) adalah awal ketegangan antara dua kepentingan atau kekuatan dalam cerpen. ketegangan dalam cerpen dapat terjadi pada diri satu tokoh, antara dua tokoh, antara tokoh dan masyarakat atau lingkungan. Kemudian muncul rumitan (komplikasi) yang membuat konflik semakin tajam ,karena berbagai sebab dan berbagai kepentingan yang berbeda dari masing-masing tokoh.

    Ketiga, klimaks adalah bagian cerpen yang yang menggambarkan puncak ketegangan atau puncak konflik. Hal itu dapat dilihat dari tanggapan emosional pembaca. Klimaks adalah puncak rumitan yang diikuti oleh (bagian yang mengawali penyelesaian) atau titik balik dari dari cerpen tersebut.

    Keempat,  penyelesaian (resolusi) adalah tahap  cerpen  menuju  penyelesaian. Alur sudah mencapai klimaks.

  5. Penggunaan Bahasa

    Bahasa merupakan nyawa sebuah cerpen. melalui bahasa pesan yang terdapat dalam cerita pendek dapat disampaikan pada pembaca. Bahasa pada cerpen dapat disusun dengan menggunakan kalimat-kalimat yang ringkas, jelas dan kaya makna serta kalimat yang mempunyai kekuatan dan mampu melukiskan informasi secara tepat pada pembaca. Bahasa dibangun dengan kalimat-kalimat yang kuat, berisi, dan kaya akan imajinasi. Keindahan dan kejelasan cerita terletak pada kekuatan kalimatnya.

 
CONTOH CERPEN DENGAN STRUKTUR
Judul: Tikus dan Manusia karya Jakob Sumardjo
 
 
 
Orientasi

Entah bagaimana caranya tikus itu memasuki rumah kami tetap sebuah misteri. Tikus berpikir secara tikus dan manusia berpikir secara manusia, hanya manusia-tikus yang mampu membongkar misteri ini. Semua lubang di seluruh rumah kami tutup rapat (sepanjang yang kami temukan), namun tikus itu tetap masuk rumah. Rumah kami dikelilingi kebun kosong yang luas milik tetangga. Kami menduga tikus itu adalah tikus kebun. Tubuhnya cukup besar dan bulunya hitam legam.

Pemunculan Konflik (Tikaian)

Rasa tidak aman masih menggantung di rumah kami. Tikus belang itu masih hidup. Dendam kami belum terbalas. Berhari-hari kemudian kami memasang lagi lem tikus dengan berganti-ganti umpan, seperti sate ayam, sate kambing, ikan jambal kegemaran saya, sosis, namun tak pernah berhasil menangkap si belang.

Bibi mengusulkan agar dikasih umpan ayam bakar. Saya membeli sepotong ayam bakar di restoran padang yang paling ramai dikunjungi orang. Sepotong kecil paha ayam itu dipasang istri saya di tengah lumuran lem Fox, sisanya saya pakai lauk makan malam.

Gagasan Bi Nyai ternyata ampuh. Seekor tikus menggeliat-geliat melepaskan diri dari karton tebal yang dilumuri lem.Tikus itu benar-benar musuh istri saya, di beberapa bagian badannya sudah tidak berbulu. Kasihan juga melihat sorot matanya yang memelas seolah minta ampun.

Klimaks

“Nunggu Mang Maman kalau ambil sampah siang,” kata istri. Ketika Mang Maman mau mengambil sampah di depan rumah, bibi minta kepadanya untuk  mencari bayi-bayi tikus.

“Di sebelah mana, Bu?” tanya Mang Maman.

“Tadi hanya terdengar di dapur saja. Mungkin di atas dapur ini atau dekat-dekat sekitar situ,” sahut istri saya.

Sekitar setengah jam kemudian Mang Mamang berteriak dari para-para bahwa bayi-bayi tikus itu ditemukan. Mang Maman membawa bayi-bayi itu di kedua genggaman tangannya sambil menuruni tangga.

“Bunuh dan buang ke tempat sampah, Mang” kata istri saya.

“Ah, jangan Bu, mau saya bawa pulang.”

“Mau memelihara tikus?” tanya istri saya heran.

“Ah ya tidak Bu. Bayi-bayi tikus ini dapat dijadikan obat kuat,” jawab Mang Maman sambil meringis.

“Obat kuat? Bagaimana memakannya?”

“Ya ditelan begitu saja. Bisa juga dicelupkan ke kecap lebih dulu.”

Penyelesaian (Resolusi)

Tikus-tikus tak terpisahkan dari hidup manusia. Tikus selalu mengikuti manusia dan memakan makanan manusia juga. Meskipun bagi sementara orang, terutama perempuan, tikus-tikus amat menjijikkan, mereka sulit dimusnahkan. Perang melawan tikus ini tidak akan pernah berakhir.

Saya masih menunggu, pada suatu hari istri saya akan terdengar teriakannya lagi oleh penampakan tikus-tikus yang baru.

  1. Tema: Keadaan Lingkungan
  2. Alur/Plot: Maju
  3. Setting: Tempat: Rumah dan Dapur, Waktu: Siang dan Malam
  4. Tokoh: Saya, istri, tikus, Mang Maman, Bi Nyai
  5. Watak: Istri (protagonis), Tikus (antagonis), Saya (netral), Mang Maman (Penyayang), Bu Nyai (Penurut)
  6. Sudut Pandang: Sudut pandang orang pertama
  7. Amanat: Dalam mengelola rumah sebaiknya selalu memperhatikan kebersihan agar tikus tidak bersarang

 

Leave a Reply