Cerpen Lebaran Ketupat

                                      sumber: travelkompas.com

Kinanti hanya diam, tapi dalam hati amarahnya begitu sangat bergejolak penuh iri-dengki. Mardi, anaknya, tidak kebagian ketupat, tapi ternyata seikat ketupat itu malah disisakan Mbah Juki untuk Topik yang tidak pulang.

Seikat ketupat selalu disisakan Mbah Juki saat Lebaran tiba. Sengaja memang ia menyisakannya untuk Topik, cucu tercinta yang kini sudah lima hari Lebaran belum pulang-pulang. Kekecewaan begitu sangat mendalam pada diri lelaki tua yang usianya sudah mendekati satu abad itu. Bagaimana tidak, cucu kesayangannya masih kerja di ibu kota Jakarta pada saat Lebaran.

”Sudahlah Mbah! Seikat ketupat itu buang saja karena sudah lima hari jadi pasti sudah basi!” kata Kinanti mengingatkan.

”Biarlah basi, tapi yang penting aku sudah sisakan untuk Topik, cucu tercintaku,” ucap Mbah Juki mengelak tampak sekali keras kepala pada pendiriannya.

”Mbah kan punya banyak cucu, semestinya seikat ketupat itu dikasih ke cucu yang lain yang sudah pulang Lebaran duluan,” Kinanti kembali mengingatkan.

”Jangan kau nasehati aku, Ti,” Mbah Harjo, kemudian menyarankan, ”lebih baik nasehati anak-anakmu agar jadi cucu terbaik seperti Topik, cucu paling istimewa yang juga menjadi cucu kesayanganku. Jutaan orang mudik menjelang Lebaran, tapi Topik rela tetap kerja dan memilih pulang setelah Lebaran demi menjalankan tugas kemanusiaan.”

”Topik rela menjaga perlintasan kereta di hari Lebaran demi keamanan. Perlintasan kereta dijaga saja masih banyak orang yang nekat menerobos, apalagi kalau tidak dijaga, hah?! Semestinya kau bangga punya saudara yang mau menjalankan tugas kemanusiaan!” imbuh Mbah Juki membangga-banggakan cucu kesayangannya itu.

Kinanti kini tampak hanya diam, tapi dalam hati amarahnya begitu sangat bergejolak penuh iri-dengki. Mardi, anaknya, tidak kebagian ketupat, tapi ternyata seikat ketupat itu malah disisakan Mbah Juki untuk Topik yang tidak pulang pas Lebaran, betapa sakit hatinya.

Sepulang dari rumah keluarga besar Mbah Juki, Kinanti langsung curhat, mencurahkan hati pada Darto, suaminya. Tentu saat sudah di dalam kamar hanya berdua saja sehingga Mardi tidak mendengarkan segala apa yang dicurhatkan.

”Memangnya seperti apa keistimewaan Topik sehingga jadi cucu kesayangan Mbah Harjo?” tanya Darto tampak menyimpan bara keirian yang menyala-nyala.

Merasa sependapat, Kinanti begitu sangat bersemangat serta-merta langsung jawab, ”Nanti kalau Topik pulang pasti akan aku selidiki seperti apa yang dilakukan Topik yang membuat Mbah Juki begitu sangat sayang dan sangat mengistimewakan.”

Besoknya, Lebaran terhitung sudah menginjak hari keenam, Topik masih belum pulang juga. Meski demikian, Mbah Juki masih tetap sabar menunggu cucu kesayangannya itu. Kali ini, Mbah Juki menginterogasi Restu, ibunya Topik.

”Res, mengapa Topik cucu kesayanganku itu masih belum pulang juga?” tanya Mbah Juki penuh selidik.

Restu tak segera menjawab beberapa saat, tapi menghempaskan napas, kemudian dengan penuh kekecewaan, barulah memberikan jawaban, ”Pak, Pak, anakku Topik itu memang aneh, mau saja menggantikan kerja beberapa temannya yang cuti kerja Lebaran duluan, mestinya tak urusi orang lain, urus diri saja belum becus kok urusi orang lain.”

”Nah, itulah yang aku suka dari Topik, yang rela dan ikhlas berkorban demi orang lain, demi tugas kemanusiaan,” puji Mbah Harjo, kemudian menasehati, ”Res, mestinya kamu itu bangga punya anak seperti itu, sebagai simbahnya aku sangat bangga.”

Restu kali ini menggeleng-gelengkan kepada, kemudian mempertanyakan, ”Apa yang dibanggakan dari Topik sih Pak?”

”Kerelaan dan keikhlasan Topik yang berkorban demi menjalankan tugas kemanusiaan itulah yang harus kita banggakan. Saat jutaan orang mudik menjelang lebaran, tapi Topik rela tetap kerja dan memilih pulang setelah Lebaran demi menjalankan tugas kemanusiaan” 

”Tapi, hanya anakku yang masih melajang dibanding dengan cucu-cucu lainnya.”

”Biarkan saja, Res!”

”Kok biarkan saja tho Pak?” Restu berkerut kening penuh tanya.

”Itu namanya belum ada jodoh dan aku sama sekali tak mempermasalahkan.”

”Tapi orang lain suka usil mempertanyakan Topik kapan kawin, kapan kawin, bahkan ada nyinyir menyindir kalau tidak kawin-kawin nanti jadi bujang lapuk.”

”Tak usah pedulikan omongan orang lain,” Mbah Juki kembali menasehati, ”Kita hidup tak harus menuruti omongan orang lain terus, mereka hanya mau melihat luarnya saja, tanpa mau mengerti apa yang sesungguhnya kita alami. Mereka bisanya hanya nyinyir saja kekurangan kita tapi tak mau bantu kita punya kekurangan.”

”Kalau kita terus-menerus mendengar orang lain itu tidak baik, Nduk, sebaiknya kita selalu mendengar suara hati nurani kita sendiri,” imbuh Mbah Juki terdengar begitu bijak menyikapi hakekat hidup ini.

Restu kali ini nurut saja tampak kini hanya mengangguk-angguk saja.

Lebaran hari ketujuh, beberapa anak Mbah Juki semakin santer memperguncingkan Topik yang masih belum pulang-pulang juga. Mereka datang ke rumah tampaknya memang hanya untuk membicarakan Topik, cucu kesayangan Mbah Harjo,

”Wah, masih belum pulang juga si Bujang Lapuk ya?” Kinanti mulai angkat bicara nyinyir menyindir.

”Biarkan saja Ti, itu bukan urusan kita para orang tua yang cucu-cucunya tidak diperhitungkan Mbak Juki!” Hesti menimpali.

”Kalian ini sukanya ikut memperguncingkan saudara sendiri,” Mbah Juki mengingatkan. “Semestinya kalian meredam omongan orang yang suka memperguncingkan Topik, bukan malah menambah dengan mengipas-ngipasi semakin jadi bahan perguncingan orang lain.”

”Di mata bapak, hanya Topik cucu yang tak ada cacatnya.”

Mbah Juki terkekeh-kekeh kemudian menerangkan, ”Tidak ada orang yang sempurna di dunia ini, begitu juga dengan Topik punya kelebihan dan juga kekurangan, hanya saja Topik cucu istimewa yang mampu menutupi kelemahan dengan kelebihan.”

”Simbah yang baik tentu tidak akan pilih kasih terhadap cucu-cucunya.”

“Aku tidak pilih kasih, pada hakekatnya semua cucu aku perlakukan sama,” Mbah Juki membela diri tampak begitu sabar hadapi anak-anak dalam perlakuan cucu-cucunya. ”Topik aku istimewakan karena memang patut diistimewakan, sebagai cucu teladan yang semestinya ditiru oleh cucu-cucu lainnya.”

Pada Lebaran hari kedelapan yang juga disebutnya sebagai tradisi lebaran ketupat, Mbah Juki punya firasat kuat kalau Topik, cucunya yang tersayang, akan pulang. Maka dari itu, ia sengaja membuat ketupat sebanyak-banyaknya agar semua anak dan cucunya dapat kebagian ketupatnya sehingga tidak ada yang protes lagi. Tapi tentu tetap ia menyisakan seikat ketupat paling istimewa untuk Topik.

Lebaran Ketupat menjadi salah satu rangkaian tradisi peringatan hari raya Idul Fitri di Indonesia, khususnya oleh masyarakat Jawa, yaitu dengan makan ketupat bersama warga masyarakat di sekitarnya yang diadakan di masjid. Setiap warga membawa sendiri-sendiri ketupat dari rumah, untuk kemudian diadakan acara selamatan atau bancakan. Setelah selesai selamatan, ketupat tersebut kembali dibawa pulang. Tujuan dan makna Lebaran Ketupat adalah sebagai simbol kebersamaan dan lambang kasih sayang.

Mbah Juki yang punya banyak anak, sebelas anak jumlahnya, dan 17 cucu, betapa ramainya jika semua anak dan cucu-cucu Mbah Juki berkumpul, tapi masalahnya satu cucu, yakni Topik yang masih belum juga pulang jadi belum lengkap. Restu, ibunya Topik, tampak begitu cemas. Hal itu membuat Mbah Juki jadi ikut-ikutan cemas juga.

”Tenangkan hatimu, Res, jangan cemas banget begitu!” Mbah Juki menenangkan ibu Topik itu.

”Pak, entah mengapa aku hari ini begitu amat sangat cemas,” Restu jujur mengakui. “Entah apa yang terjadi dengan Topik yang membuat aku benar-benar jadi sangat cemas sekali.”

”Jangan terlalu dituruti perasaan cemasmu, Res!” tutur Mbah Juki menasehati, kemudian membimbing, ”Berdoalah yang baik-baik tentang Topik, semoga keadaan Topik baik-baik saja.”

”Semoga keadaan Topik baik-baik saja,” Restu mencoba untuk menenangkan diri, tapi tak dapat dipungkiri perasaan cemas memang semakin menguasai dirinya. ”Saya melihat di TV ada berita kecelakaan kereta di daerah tempat Topik bekerja jadi Mas Rido langsung saya suruh datang langsung ke Jakarta untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.”

Telepon genggam berbunyi, Restu buru-buru langsung mengangkatnya, tapi terlihat wajahnya mendadak pucat pasi, hingga tanpa sadar telpon genggam lepas dari genggaman tangan, sepertinya sesuatu terjadi pada diri Topik yang turut menjadi korban kecelakaan kereta saat berusaha mencegah orang yang nekat menerobos perlintasan kereta. Firasat Mbah Juki bahwa Topik akan pulang benar adanya, tapi tidak pulang ke kampung halaman, melainkan pulang ke alam keabadian untuk selama-lamanya.

Akhmad Sekhu, penulis kelahiran Desa Jatibogor, Suradadi, Tegal, 27 Mei 1971. 

Referensi: 

https://www.kompas.id/baca/cerpen-hiburan/2022/06/01/lebaran-ketupat

Glosarium

  • Bergejolak (berkobar)
  • Ketupat (makanan yang terbuat dari beras)
  • Lebaran (hari raya islam)
  • Imbuh (menambahkan)
  • Becus (mampu)
  • Menghempaskan (menghembuskan)
  • Simbahnya (sebagai kakeknya)
  • Nyinyir (cerewet)
  • Nduk (panggilan perempuan orang jawa)
  • Bujang lapuk (seorang laki-laki yang usianya telah melewati umur untuk menikah)
  • Menerobos (memaksa melewati)

Leave a Reply