Pengenalan Cerpen

Halo Sobat BIPA!

Tahu kah kamu apa itu cerpen?

Cerpen adalah akronim atau singkatan dari cerita pendek. Cerita pendek adalah bentuk cerita secara menarik tentang sebuah peristiwa.

Apakah Ciri-Ciri Cerpen Yang Baik? Cerpen yang baik setidaknya memenuhi beberapa hal di bawah ini : 

  • Ceritanya menarik (tidak klise)
  • Pengisahan mengalir lancar dan logis
  • Karakter (tokoh) yang kuat (tak terlupakan)
  • Alur ceritanya jernih dan padu
  • Ada konflik (menegangkan, bikin penasaran, unik)
  • Penyelesaian mantap (tak tergesa-gesa, terkadang mengejutkan)
  • Meniggalkan impresi, mengesankan.

Kemudian, adakah langkah-langkah sistematis yang bisa dilakukan untuk menghasilkan cerpen yang baik? Secara teknis, ada lima langkah dasar yang perlu dilakukan dalam menulis cerpen.

1. MENGGALI GAGASAN
     Menulis pada dasarnya berkaitan dengan dua hal utama bentuk dan isi. Ada anggapan bahwa bentuk atau gaya dalam menulis lebih penting ketimbang isi. Anggapan ini kurang tepat. Yang paling menentukan bernyawa tidaknya sebuah tulisan adalah isi, bukan bentuk. Bentuk atau gaya itu penting. Tetapi, itu bukan yang utama. Bisa pula dikatakan sebagai berikut:

  • Masalah apa yang harus saya tulis? (Isi)
  • Bagaimana sebaiknya saya menulisnya? (Bentuk)

2. MENYUSUN KERANGKA TULISAN 
     Menyusun kerangka tulisan (outline) 
   Setelah gagasan inti dan gagasan pendukung kita dapat, sekarang tiba waktunya untuk menyusun kerangka tulisan/outline. Untuk membuat tulisan kita sistematis dan enak dibaca, menyusun kerangka tulisan sangat diperlukan. Jika kita sudah mahir, kita bisa menyusun kerangka tulisan di dalam kepala, tidak perlu dituliskan.

     Dalam kerangka tulisan ini kita menyusun detail dari alinea ke alinea. Peralihan per alinea kita usahakan sehalus mungkin, sehingga pembaca tak merasakan kejanggalan ketika membaca tulisan kita. Transisi setiap paragraf diupayakan begitu halus.

     Misalnya, kita mau menulis cerpen tentang bencana banjir di Bandung. Sementara, kita memilih sudut pandang (angle) berdasarkan pertanyaan ini: apakah penyebab bencana banjir dan apa akibatnya bagi masyarakat?

Contoh sederhana:
Kalimat pokok: Bencana banjir di Bandung
Sudut pandang penulis/Angle: Akibat buruk banjir bagi masyarakat
Sudut pandang narator/Point of View: orang pertama
Kerangka Tulisan/Outline:

  1. Agus, seorang siswa Sekolah Dasar, rumahnya berdekaan dengan sungai. 
  2. Agus sedang mendengarkan pertandingan sepak bola melalui radio.
  3. Hujan lebat turun.
  4. Air sungai meluap, banjir menyerbu rumah Agus.
  5. Sungai banjir akibat banyak orang membuang sampah ke sungai, sungai jadi kotor dan mampet, air tidak lancar mengalir, terhalang sampah. Jika hujan deras turun, air sungai meluap, menyebabkan banjir.
  6. Agus terpaksa mengungsi gara-gara rumahnya kebanjiran.
  7. Agus melamun di pengungsian, bersedih, berharap banjir tak terjadi lagi, berharap orang-orang menyadari ulah mereka membuang sampah sembarangan ke kali yang menyebabkan banjir.

3. MENGUMPULKAN BAHAN 
     Setelah mendapatkan gagasan dan menyusun kerangka karangan, selanjutnya kita perlu melakukan riset dan mengumpulkan bahan untuk penulisan cerpen. Ini misalnya terkait dengan pengumpulan informasi untuk latar tempat dan waktu, penokohan, dan beberapa elemen nuansa yang penting untuk memperkuat bangun cerpen. Secara umum, metode riset dan pengumpulan bahan tulisan ini dapat digolongkan ke dalam beberapa langkah berikut:

  1. Studi pustaka
  2. Eksplorasi digital
  3. Wawancara narasumber
  4. Observasi langsung Pengamatan langsung ke lapangan terkadang diperlukan

4. MERACIK CERITA 
     Setelah semua tahap awal menulis cerpen telah kita lewati, langkah selanjutnya adalah mulai menulis. Tentu saja, ini berkaitan dengan bagaimana memahami struktur cerpen dan teknik menulis. Seorang penulis cerpen atau kerap disebut cerpenis seyogianya memahami struktur penyusun cerpen dengan baik.

     Seorang cerpenis juga sebaiknya mau mempelajari teknik menulis dan terbuka terhadap gaya penyajian yang baru. Untuk itu, yang bisa dilakukan antara lain dengan membaca cerpen-cerpen bagus karya para pengarang terkemuka, baik yang sezaman maupun dari masa sebelumnya.

# Struktur
     Pada dasarnya struktur bangun cerpen secara konvensional terdiri dari beberapa unsur di bawah ini: Teras/kalimat pembuka/lead Transisi (perantara menuju inti cerita)  Inti cerita yang berpuncak pada konflik cerita.

#Judul
     Judul adalah semacam etalase cerpen. Judul yang menarik menentukan apakah seorang pembaca akan melirik cerpen kita atau tidak. Upayakan memberi judul yang
tidak klise. Upayakan membuat judul yang bisa membikin pembaca penasaran.
Perhatikan judul-judul berikut ini:

  • Putri Kadita Ratu Pantai Selatan
  • Menonton Jaranan
  • Senyum Karyamin
  • Sayap Garuda
  • Lebaran Ketupat
  • Tubuh Tarra dalam rahim pohon

  Menarik atau tidak? Bikin kita penasaran ingin membaca cerpennya atau biasa saja? Unik atau justru klise? Mana yang paling menarik? Mana yang paling tidak menarik?

# Pembukaan

     Pembuka cerita disebut lead atau teras tulisan.  Para penulis yang baik selalu memikirkan kalimat pertama yang kuat untuk membuka cerita mereka. Berikut ini contoh beragam pembukaan cerita :

  1. Bertahun-tahun kemudian, saat ia menghadapi regu tembak, Kolonel Aureliano Buendia terkenang pada suatu senja yang telah lama lampau ketika ayahnya
    mengajak dia melihat sebongkah es batu. (Seratus Tahun Kesunyian-Gabriel Garcia Marquez)
  2. Senja ketika Margio membunuh Anwar Sadat, Kyai Jahro tengah masyuk dengan ikan-ikan di kolamnya, ditemani aroma asin yang terbang di antara batang
    kelapa dan bunyi falseto laut, dan badai jinak merangkak di antara ganggang, dadap, dan semak lantana. (Lelaki Harimau – Eka Kurniawan)
  3. Pengalaman menyelamnya yang paling mengesankan berlangsung pada puncak musim kemarau, di tahun bombunuh diri meledak di ibu kota untuk pertama kali. (Pengelana Laut – Linda Christanty) #Kompas, 5 Januari 2020
  4. Orang memanggil aku: Minke. (Bumi Manusia – Pramoedya Ananta Toer) 
  5. Tukang pos itu muncul dari balik cakrawala saat senja, mengendarai kuda sembrani bersurai kuning keemasan. (Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia- Agus Noor)

#Penokohan
      Penokohan atau karakterisasi perlu digarap dengan serius. Bila perlu, gunakan model tokoh faktual sebagai sumber inspirasi. Kehadiran tokoh di dalam cerita tidak cukup sebatas nama. Tokoh sebaiknya hidup sebagai pribadi dengan ciri fisik dan watak yang nyata. Kita perlu menggambarkan fisik nya, termasuk kebiasaan-kebiasan kecil dan bahasa tubuhnya, seperti menggaruk tahilalat atau mengedip-ngedip. Semakin “manusiawi” tokoh cerita kita, semakin kokohlah penokohan itu. Hindari tokoh yang hitam-putih dan klise. Setiap orang punya sisi baik dan jahat, kuat dan lemah, mengagumkan dan menyebalkan.

# Alur
     Tak ada peristiwa, tak ada cerita. Cerita berjalan seiring dengan mengalirnya plot atau pengaluran kisah. Cerita akan menarik ketika mengandung suspense (ketegangan) dan surprise (kejutan). Mengalir menuju konflik peristiwa dan berujung pada “penyelesaian” yang menarik.
 Suspense: bagaimana kita mengulur penyampaian infor masi sehingga pembaca menjadi penasaran seolah sedang menghadapi teka-teki yang mendebarkan.
 Surprise: memberikan sentakan yang akan membuat pembaca kaget, tidak menyangka. Kejutan yang pas akan memancing emosi pembaca, membuatnya mengenang selalu cerita tersebut.
 

#Latar 
      Latar adalah elemen penting tempat cerita berpijak. Ide cerita yang hebat, jika tidak didukung oleh latar yang kuat, akan mengurangi daya tarik cerpen. Maka, perkuatlah latar cerita. Mulai dari latar tempat, waktu, hingga suasana. Deskripsikan tempat dengan detail, terutama dengan menggambarkan hal hal yang unik atau khas. 
     

#Nuansa 
     Untuk memberi nuansa pada latar dan menambah bobot cerita, kita bisa gunakan sisipan. Sisipan itu bisa berupa lirik lagu populer, dialog yang dikutip dari film, kisah sejarah, informasi ensiklopedis, potongan pertandingan sepak bola, atau apa pun yang mendukung bangun cerita. Yang penting relevan dan tidak berlebihan porsinya. Jangan lupa untuk memberi catatan terkait sumber informasinya. 

# Dialog

     Dialog adalah alat untuk menghidupkan cerita dan menyampaikan penjelasan. Dialog itu kunci yang membuat tokoh cerita jadi hidup, konflik terbuka, emosi bangkit, dan alur cerita bergerak. Beberapa saran untuk menyusun dialog:

  • Buatlah dialog yang logis dan tidak mengada-ada. 
  • Jangan mengulang apa yang sudah ada dalam narast Jangan tulis apa yang sudah diketahui pembaca. 
  • Tulislah dalam dialog hal-hal yang perlu diketahui pembaca. 
  • Tulislah dialog secara ringkas, kecuali diperlukan sebalik nya untuk mendukung cerita atau penokohan.

# Konflik

     Konflik adalah puncak cerita dalam struktur cerpen konvensional. Pertengkaran, perbedaan pendapat, benturan kepentingan, adalah contoh konflik. Bangun cerpen biasanya bergerak dari pembukaan menuju transisi ke inti cerita yang berpuncak pada konflik untuk kemudian berlanjut ke penyelesaian dan penutup cerita.

Penyelesaian konflik (Penutup)

    Berbeda dengan menulis nonfiksi, dalam menulis cerpen ada beberapa hal pokok yang harus diberi perhatian khusus, terutama penokohan (karakterisasi), pengaluran cerita (plot), dan latar cerita (tempat dan waktu). Kita juga perlu memperhatikan logika dalam cerita. Fiksi bukan berarti semaunya. Cerita harus logis dan tidak menyimpang dari logika teks.

# Penutup

     Apa saja bentuk-bentuk ending atau penutup cerita? Ada beberapa jenis teknik penutup yang bebas dipilih oleh setiap penulis sesuai kebutuhan. Kalau perlu, bereksperimenlah dengan menulis satu cerpen dengan menggunakan beberapa. alternatif penutup yang berbeda di akhir cerita. Perhatikan beberapa teknik penutup di bawah ini:

  • Kejutan. Penutup yang mengagetkan bisa membuat pembaca seolah-olah terlonjak. Penulis menggunakan tubuh cerita untuk menyiapkan pembaca pada akhir yang tak terduga. Ada plot twist di ujung cerita.
  • Klimaks. Penutup ini sering ditemukan pada cerita yang ditulis secara kronologis. Ini seperti sastra konvensional di mana ketegangan terus dibangun hingga puncak konflik berada di akhir cerita. Tak ada kejutan atau akhir taterduga.
  • Akhir Terbuka. Penulis dengan sengaja mengakhirinya dengan akhir yang tak tegas atau sebuah pertanyaan pokok yang tidak terjawab. Selesai membaca, pembaca tetap tidak jelas apakah tokoh cerita menang atau kastla menyelesaikan cerita sebelum tercapai klimaks karena penyelesaiannya memang belum diketahui atau karena penulisnya sengaja ingin membuat pembaca menebak nebak atau “tergantung”.

     Seorang penulis harus berhati-hati dalam memilih penutup cerita yang tepat dan logis bagi cerita tersebut. Bila penutup dirasa lemah, tergesa-gesa, atau tidak wajar, ia bisa melihat beberapa paragraf sebelumnya untuk mendapat penutup yang lebih baik. Seorang penulis yang baik selalu berusaha bercerita dengan lancar, logis, dan tidak dibuat-buat

Leave a Reply