Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon (Karya Faisal Oddang)

Karya Faisal Oddang

ORIENTASI

Di passiliran (kuburan bayi dalam pohon tarra) ini, kendati begitu lemah, tubuh ibu tidak pernah menolak memeluk anak-anaknya. Di sini, di dalam tubuhnya bertahun-tahun kami menyusu getah. Mengira usia yang tak lama. Perlahan membiarkan tubuh kami hilang oleh waktu menyatu dengan tubuh Ibu. Lalu kami akan berganti menjadi makam bagi bayi-bayi yang meninggal di Toraja. Bayi yang belum tumbuh giginya. Sebelum akhirnya kami ke surga. 

Beberapa hari yang lalu, kau meninggal entah sebab apa. Kulihat kerabatmu menegakkan tangga di tubuh Ibu untuk mereka panjati. Sudah kuduga, kau keturunan tokapua (bangsawan tertinggi),  makammu harus diletakkan di tempat tinggi. Padahal kau, aku, dan anak-anak Ibu yang lain, kelak di surga yang sama.

Pagi-pagi sekali, kau berdiri di ambang bilik mengetuk pintu bambu yang rontok sebab bertahun-tahun tak diganti. 

”Boleh masuk?”

 Aku mengangguk, takut salah bicara dan kau akan murka. Bagi tomakka (kasta menengah) sepertiku, tak ada yang lebih hina dari salah bertutur kepadamu. 

”Maaf,” bukamu, ”sudah seminggu saya di sini, tapi saya sepertinya masih sangat asing.”

 ”Saya dan anak-anak Ibu yang lain juga minta maaf, kau tahulah kami ini hanya tomakaka, bahkan ada tobuda (kasta terendah), tak seberapa nyali kami untuk melancangi kaum junjungan sepertimu.”Air matamu jatuh, luruh satu demi satu. Apa yang salah dariku, atau darimu, Runduma? Iya, kutahu namamu dari Ibu, malam setelah kau makam di tubuhnya, Ibu menceritakan segala perihal kau, mesti tak jelas dan tentu saja samar-samar. Kau membawa banyak luka dari dunia?

 ”Di dunia, saya junjunganmu. Tapi di sini beda…,” kau menggantung, wajahmu kian rusuh, adakah yang kisruh di pikiranmu? Kemudian, tangisanmu keras, bertambah deras buyar air matamu. 

”Lola Toding?”

Aku tergagau. Kau tahu namaku? Ah ya, pasti Ibu yang memberi tahu. Kau duduk geming wajahmu tampak ragu.

KOMPLIKASI

 ”Ceritalah!” terkaku, dan aku yakin kau ingin menerakan sesuatu.

 ”Jangan sampai yang lain tahu, kau bisa menjaga rahasia, kan?” Aku mengangguk meyakinkanmu. Kau menimpalkan senyuman lantas memulai kisahmu, dengan dada yang kelihatan sesak. Koyak. Tongkonan (rumah adat toraja) tampak gegap malam itu. Suara-suara riuh. Wajah-wajah penuh peluh. Orang-orang terlibat bicara. Sesaat situasi menegang ketika seorang lelaki paruh baya memegang leher baju pemuda yang wajahnya kusut.

”Pemuda kusut itu ayahku.” Kau sela ceritamu sendiri. Aku mengangguk, memberimu isyarat melanjutkan cerita.

 Ayahmu diam dalam simpuhnya. Ia tertenduk lesu. Matanya berkaca-kaca seperti hendak marah namun tak sanggup. 

”Dia sudah menyalahi larangan berzinah. Ia berzinah,” geram lelaki paruh baya itu. Dia kakekmu, Runduma? Betul. Kau mengangguk. Ayah dan ibumu pacaran. Bukan lantaran mereka saling mencintai sehingga adat tak adil padanya. Bukan. Seperti yang kau ceritakan; orangtuamu itu kedapatan saling tindih di semak belakang tongkonan sebelum resmi menikah. Untung yang menemukan mereka kerabatmu juga sehingga tak ia sebar kabarnya ke penjuru kampung. 

Pagi mulai beranjak menjejak siang. Kutahu itu dari getah putih yang mulai tak deras mengucur dari tubuh Ibu. Ceritamu belum selesai.

”Besok saya lanjutkan, Toding,” cetusmu. 

”Kau janji?” 

”Pasti saya cerita!” 

”Janji jangan panggil Toding, itu nama lelaki, nama ayahku. Lola saja,” kataku. Kau tersenyum, tampak geli mendengarku. 

Awan Agustus nampak di langit Toraja. Derau angin merontokkan rambut-rambut Ibu yang kecokelatan. Aku duduk di ambang bilik, melempar tatap sejauh mungkin. Sebentar lagi, mungkin jelang beberapa hari Toraja akan riuh. Kudengar kabar, keluarga Allo Dopang akan mengadakan rambu solo (perayaan kematian) untuk mayat tanggungannya yang masih sakit dalam rumah tongkonan. Ingin rasanya aku mengajakmu ke sana. Paling tidak, di sana kita akan melepas rindu pada sanak kerabat. Bukankah, bagi kita anak-anak Ibu, surga kecil adalah senyuman kerabat. Atau kau ingin bertemu orangtuamu? Ikutlah denganku, Runduma, aku yakin acaranya pasti meriah. Akan ada puluhan kerbau yang dipotong, babi juga pasti banyak.

”Toding,” tegurmu melamurkan lamunku. Aku berbalik badan. Menatapmu tajam. 

”Eh, maaf, maksud saya, Lola,” tambahmu lekas. ”Ada apa? Mau melanjutkan yang tak sampai waktu itu?” ”Punya waktu?” ”Silakan,” timpalku tanpa menjawab basa-basi mu. 

Ayahmu golongan bangsawan tertinggi, sama seperti ibumu, tak ayal, pesta pernikahan harus dirayakan mewah di rumah mereka. Tak boleh tidak. Kalau lancang menghindar, tulah akan menimpa. Katamu, kematianmu berawal dari sana. Meskipun bukan pokok perkara, pernikahan mewah orangtuamu yang membuatmu mati sebelum sempat merasakan dunia lebih lama. Sama sepertiku. Seperti anak-anak Ibu yang lain. 

Pernikahan mereka lancar, hingga saya lahir dan berusia lima bulan. Semuanya berakhir begitu saja.” Kau tersedu. Tidak dapat melanjutkan kalimatmu. Lelaki dapat rapuh juga, batinku. Tak sadar, kini kau telah merasuk dalam pelukanku.

  Malam itu, malam terakhirmu di dunia. Kau mengembuskan napas terakhir di tangan kedua orangtuamu. Mereka tak pernah akur setelah rahasia pernikahannya terbongkar. Ayahmu menanggung borok utang. Sebagai kaum bangsawan, ayahmu wajib membayar dengan dua belas kerbau dewasa untuk menyunting ibumu. Jadilah ia memungut uang di kiri-kanan, tentu dengan bunga yang tinggi. Setelah lebih setahun pernikahan mereka utang ratusan juta itu belum juga dapat ayahmu lunasi. Ia jadi sering marah. Memukuli dan mengumpati ibumu. Kau sial malam itu, Runduma. Dari gendongan ibumu kau terpental setelah ambemu tak lagi meredam amarahnya sehingga ia melompat dan mendorong ibumu hingga tersungkur. Ibumu meringis. Kepalamu mengangguk keras lantai rumah. Sesaat hening. Kemudian suasana keruh. Rusuh. Ayahmu kalap. Gelagapan. Ibumu merasukkan tubuhmu ke gendongannya.

”Saya merasa napasku berat malam itu. Lalu tersengal-sengal,” katamu, dan kau semakin rapat dalam pelukanku. 

”Kau ingat semuanya?” tanyaku penasaran. 

”Tidak semua, tapi beberapa kejadian di jelang kematianku masih kuingat meski agak samar,” jelasmu. 

Ayahmu panik. Ibumu jangan ditanya lagi. Ia kehilangan daya ketika melihat tangannya yang menadah kepalamu memerah darah. Di gendongannya kau dibawa lari ke muka rumah, ia berteriak.

 ”Tidak ada yang mendengar. Kupikir semuanya telah kalap dalam lelap.” Kau menukas kisahmu dengan pernyataan yang seakan-akan kausesali. 

”Jadi kematianmu hanya disaksikan ayah serta ibumu?”

”Tidak juga,” lantas jawabmu. ”Saat Tuhan membawa arwahku, masih sempat kulihat Tante Mori adik perempuan Ayah menangisiku yang telah kaku di gendongan Ibu.”

Kau menutup ceritamu dengan mengatupkan rapat lenganmu ke tubuhku. Kau memelukku lama. Lama sekali hingga kurasakan perasaan aneh terus menjalariku. Apakah ini cinta? Semoga tidak. 

”Saya tak punya siapa-siapa,” selama menengahi tangisanmu sendiri. 

Kutepuk halus pundakmu, ”Ada kami dan Ibu. Jangan bilang begitu.”

Perasaan aneh itu bertambah hebat dan akhirnya benar-benar menyentuhku. Aku mencintaimu, Runduma. 

Pagi turun bersama kabut yang menutupi tebing-tebing batu dan kekar akar-akar yang menjulangkan pohon di bukit Toraja. Rumah kita dingin sekali pagi ini. Aku tengah menyusu. Riuh suara-suara terdengar di halaman makam pohon tarra. Runduma, kau datang padaku pagi itu dengan wajah yang menyimpan banyak cerita. Aku tahu itu. Kau lantas mengajakku masuk bilik dan duduk berhadapan. 

RESOLUSI

”Lola, kau tahu siapa yang jadi memandu turis-turis itu?” 

Aku menggeleng. Bingung. 

”Sini, sini,” kau tarik tanganku lalu bersama kita singkap bambu bilikku. ”Itu, tuh…”

 Aku menelisik kerumunan orang yang sibuk berfoto di depan Ibu.

 ”Yang pakai kacamata?”

 ”Bukan!” tegasmu. 

”Yang berbaju cokelat, pasti itu! ”Itu Ayah,” kau lesu mengatakannya. Wajahmu tampak begitu kisruh Runduma. 

Kau tampak sedih hari ini. Padahal seharusnya rindumu terobati dan kau tak boleh menampung begitu banyak muram di dadamu. Lama sekali kita berdiam di ambang bilik menyaksikan pongah pengunjung dan tawa mereka yang kerap memilukan kita.

”Ambe menyambi pemandu saat bulan-bulan wisata, di hari biasa ia menggarap sawah.”

 ”Lihat, dia tahu banyak tentang Ibu.” Kuarahkan pandangan ke ambemu. Ia tengah menjelaskan kepada turis-turis itu tentang passiliran ini. 

”Ia bekerja sejak lajang.”

 ”Pantas!” anggukku. 

Pagi tidak datang seperti biasa, terasa sangat lambat. Hari ini pagi dibangunkan oleh Ibu, passiliran gempar. Ibu murka. Anak-anaknya ketakutan. Rambut-rambut Ibu berguguran. Berganti rambut satu-satu. Getahnya mengucur deras menjadi air mata. 

”Kau di mana, Lola?” 

Suara Ibu bergetar memanggilku. Lantang seperti nekara ditabuh. Aku merinding mendengarnya. Namun tak bisa menyahut. ”Di mana kau, Lola?” tanyamu dalam isakan. ”Mengapa kau pergi, saya mencintaimu.” Suaramu membuat debaran aneh itu kian menjalariku. Kau mencintaiku juga, Runduma? 

KODA

Ibu masih murka. Hampir tumbang tubuhnya lantaran tak dapat memendam dendam. Ia kehilangan anaknya. Semalam, tanpa ada yang tahu, ayahmu, Runduma membawa mayatku yang hanya tulang berbalut belulang. Ia menjualnya seharga ratusan juta rupiah kepada turis yang kemarin ia temani. Sekeras mungkin kuteriaki kau yang masih bersimpuh di bilikku yang kini kosong. Dari sini, antara surga dan passiliran arwahku tergantung tak jelas. Sebab tubuhku tak lagi menyatu dengan Ibu. Aku mencintaimu, Runduma. Kuyakin kau tak mendengarnya.

Cerpen ini pertama kali dipublikasikan di harian Kompas, edisi 4 Mei 2014. Kemudian dipilih sebagai Cerpen Terbaik Kompas 2014

Glosarium

  • Menyusu (minum) 
  • Menegakkan (mendirikan)
  • Ambang (diantara)
  • Bilik (kamar)
  • Melancangi (tidak sopan)
  • Luruh (jatuh)
  • Junjungan (panutan)
  • Buyar (pecah)
  • Menjejak (menjelang) 
  • Tersedu (sedih)
  • Tersenggal-senggal (terputus-putus)
  • Kalap (lupa diri) 
  • Mengatupkan (menutup rapat)
  • Muram (sedih) 
  • Berbalut (pembungkus) 
  • Bersimpuh (duduk)

Leave a Reply