UNIT 3 - TEKS eksplanasi

Kegiatan Belajar

Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari unit ini, Anda diharapkan mampu:

  1. Mengidentifikasi gagasan utama dan pendukung dalam teks berupa bacaan dalam topik fenomenasi sosial
  2. Mengidentifikasi makna kosakata dan ungkapan yang terkait dalam bacaan.

Langkah Pembelajaran 

Menurut Huda (2013), tahapan yang dilakukan dalam proses pembelajaran menggunakan metode self-directed learning adalah sebagai berikut:

A. Planning

Tahap ini memiliki langkah antara lain: menganalisis kebutuhan peserta didik, institusi dan persoalan kurikulum, melakukan analisis terhadap skill atau kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik, merancang tujuan pembelajaran yang continum, memilih sumber daya yang tepat untuk pembelajaran, serta membuat rencana mengenai aktivitas pembelajaran harian.

B. Implementing

Pendidik mempromosikan kemampuan yang dimiliki peserta didik, menerapkan pembelajaran sesuai dengan hasil adopsi rencana dan setting, penyesuaian yang telah dilakukan, serta memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memilih metode yang sesuai dengan keinginannya.

C. Monitoring

Pada tahap ini pendidik melakukan mind-tas monitoring atau melakukan pengawasan terhadap pengerjaan tugas yang diberikan, study balance monitoring atau melakukan pengawasan peserta didik selama mengerjakan aktivitas-aktivitas lain yang berkaitan dengan tugas utama pembelajaran, serta awareness monitoring atau mengawasi kesadaran dan kepekaan peserta didik selama pembelajaran.

D. Evaluating

Pendidik membandingkan hasil peserta didik, menyesuaikan dan melakukan penilaian peserta didik dengan tujuan yang telah dirancang sebelumnya, serta meminta pernyataan kepada peserta didik, dengan mengajukan pertanyaan mengenai proses penyelesaian tugas.

Sebelum memulai pembelajaran, terdapat kuis mengenai tata bahasa yang dapat Anda mainkan terlebih dahulu. 

Uraian Materi

Uraian Materi

Pada unit 3 kita akan mempelajari teks eksplanasi. Sebelum mempelajari teks eksplanasi coba jawablah pertanyaan berikut ini.

1. Apakah Anda pernah menjelaskan proses terjadinya atau terbentuknya suatu fenomena alam atau sosial yang terjadi di kehidupan sehari-hari?

Jika Anda pernah menjelaskan proses terjadinya atau terbentuknya suatu fenomena alam atau sosial yang terjadi di kehidupan sehari-hari dan menuliskannya dalam bentuk teks berarti anda sudah menulis teks eksplanasi. Jadi teks eksplanasi merupakan sebuah karangan yang berisi penjelasan-penjelasan lengkap mengenai proses terjadinya atau terbentuknya suatu fenomena alam atau sosial yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Teks ini bertujuan untuk memberikan informasi sejelas-jelasnya kepada pembaca agar paham atau mengerti tentang suatu fenomena yang terjadi. Struktur teks eksplanasi yaitu:

a. Identifikasi fenomena (phenomenon identification) mengidentifikasi sesuatu untuk dijelaskan. Bisa terkait dengan fenomena alam, sosial, budaya, dan lainnya.

b. Deskripsi rangkaian peristiwa (explanation sequence), merinci proses peristiwa yang relevan dengan fenomena yang digambarkan sebagai pertanyaan tentang bagaimana atau mengapa. sebuah.

1) Rincian yang terpola pada pertanyaan “bagaimana” akan menghasilkan uraian yang tersusun secara kronologis atau bertahap. Dalam hal ini, fase-fase peristiwa disusun secara kronologis.
2) Detailnya berpola di atas. pertanyaan “mengapa” akan melahirkan deskripsi. diatur secara kausal. Dalam hal ini fase-fase peristiwa disusun berdasarkan hubungan sebab akibat.

c. Ulasan (review), berupa komentar atau penilaian tentang akibat dari peristiwa yang telah dijelaskan sebelumnya (Suherli et al, 2017:62)

Tradisi Lompat Batu Nias

(Pernyataan umum)
Lompat batu atau yang biasa disebut sebagai Fahombo adalah salah satu pertunjukan atraksi budaya di Pulau Nias, Sumatera Utara, teparnya di Desa Bawomataluo. Tradisi Lompat Batu adalah ritual budaya untuk menentukan apakah seseorang pemuda di salah satu desa adat Kabupaten Nias dapat diakui sebagai pemuda yang telah dewasa atau belum. Dewasa dalam hal ini, dapat diartikan secara fisik maupun mental.

(Urutan sebab-akibat)
Tradisi lompat batu berasal dari kebiasaan berperang antar desa suku-suku di pulau Nias. Masyarakat Nias memiliki karakter keras, gengsi, dan kuat yang diwariskan dari budaya pejuang perang di masa lampau. Setiap desa yang melakukan pertempuran, memiliki benteng masing-masing sebagai upaya proteksi diri dari serangan musuh.

Untuk memenangkan peperangan, setiap pasukan harus memiliki kemampuan untuk melompati benteng yang memagari setiap desa. Karena itulah dibuat tumpukan batu sebagai sarana untuk berlatih ketangkasan para pemuda untuk melompat, agar berhasil membantu penyerangan ke desa musuh.

Tradisi Fahombo diwariskan secara turun-temurun pada anak laki-laki, tradisi ini dilakukan dengan cara melompati tumpukan batu setinggi 2 meter. Setiap peserta yang melompat, tidak boleh menyentuh bagian atas batu dari fahombo. Jika menyentuh, maka peserta dianggap gagal dan kembali mengantri untuk mencoba kesempatan berikutnya. Tujuan tradisi ini untuk menunjukkan bahwa mereka pantas dianggap dewasa secara fisik. Namun, tidak semua anak laki-laki sanggup melakukan tradisi ini, meskipun mereka telah dilatih sejak kecil.

(Interpretasi)
Saat ini, tradisi Lompat Batu telah dijadikan sebagai salah satu seni pertunjukan yang terus dilestarikan kehadirannya. Hal ini bertujuan untuk menarik minat wisatawan agar datang mengunjungi Nias.

Tahukah Kamu

Tari tor tor (tortor) merupakan tarian khas suku Batak, Sumatera Utara. Tarian ini sudah ada sejak abad ke-13 dan masih lestari hingga kini. Tahukah kamu, apa makna tari tor tor?

Tari tor tor merupakan tarian adat. Pada zaman dahulu, tarian ini dilakukan untuk menghormati Sang Penguasa Alam, arwah leluhur, juga para tamu desa yang dihormati. Oleh sebab itu, tarian tor tor dilakukan dengan sangat serius dan khidmat.

Tari tor tor juga diadakan untuk ritual-ritual adat, seperti dalam pesta bius (pengorbanan hewan), mangase taon (tahun baru), pesta saring-saring (membersihkan tulang belulang), dan lainnya.

TES FORMATIF

Tari Tortor

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Tari_Tortor

Tari Tor-tor merupakan tarian yang berasal dari Toba, Sumatera Utara. Nama Tortor berasal dari bunyi hentakan kaki pada lantai rumah adat suku batak yang terbuat dari kayu sehingga menghasilkan suara berbunyi “tor” “tor”. Tujuan tarian ini biasa dilakukan pada saat mengadakan suatu upacara adat, ritual atau hanya untuk hiburan semata dan terdiri dari perempuan atau laki-laki atau bisa juga keduanya.

Tari tor-tor memiliki gerakan yang sederhana namun tetap terlihat indah. Dan dalam melakukan tari ini, penarinya wajib menggunakan kain khas batak yang biasa disebut ulos. Ada banyak pantangan yang tidak diperbolehkan saat manortor, seperti tangan si penari tidak boleh melewati batas setinggi bahu ke atas, bila itu dilakukan berarti si penari sudah siap menantang siapa pun dalam bidang ilmu perdukunan, atau adu pencak silat (moncak), atau adu tenaga batin. Ada yang percaya juga bahwa penari tersebut nantinya akan mendapat kesialan.

Adapun makna simbol dalam tiap gerakan Tortor masing-masing mempunyai arti yang menjelaskan bagaimana proses menghargai dan memberi penghormatan antar marga sebagai bentuk hubungan yang baik. Dalam unsur kekerabatan masyarakat Batak antara hula-hula, dongan sabutuha dan boru gerakan itu semua menjelaskan proses tersebut melalui simbol gerakan yang akan dibawakan oleh panortor.

Selain hanya sebuah tarian, tor-tor juga berfungsi sebagai alat komunikasi. Komunikasi yang dimaksud adalah antara penari dengan orang lain. Jika di dalam sebuah acara adat, bila ada seseorang yang meminta penari menari dengan menggunakan lagu yang dipilih oleh orang tersebut, maka penari harus siap menarikannya sesuai dengan alunan lagu yang dimainkan.

Sumber: https://sudutpintar.com/teks-eksplanasi/contoh/budaya/

Kuis Interaktif: Tari Tortor

1. Dari manakah tari tortor berasal?

2. Apa fungsi tari tortor?

3. Berikut tujuan tari tortor dilakukan, kecuali..

4. Mengapa tangan penari tidak boleh melewati batas setinggi bahu?

5. Apa sebutan kain khas batak yang wajib dipakai oleh penari?